
Perkembangan transformasi digital meningkatkan ketergantungan organisasi terhadap sistem informasi, jaringan, aplikasi, dan data. Pada saat yang sama, perluasan penggunaan teknologi juga memperbesar attack surface dan meningkatkan risiko munculnya kerentanan, kebocoran data, penyalahgunaan akses, serta berbagai serangan siber. Karena itu, kompetensi keamanan siber (cybersecurity) menjadi semakin penting bagi lulusan bidang teknologi informasi.
Menjawab kebutuhan tersebut, Universitas Bhinneka Nusantara (UBHINUS) terus memperkuat pembelajaran agar mahasiswa tidak hanya mampu menggunakan dan membangun sistem digital, tetapi juga memahami bagaimana sistem dapat diserang, risiko yang dapat muncul, serta kontrol keamanan yang perlu diterapkan untuk melindunginya.
Salah satunya melalui Mata Kuliah Keamanan Informasi yang membahas berbagai aspek seperti prinsip confidentiality, integrity, dan availability (CIA), keamanan jaringan dan sistem, identifikasi kerentanan, attack vector, autentikasi dan kontrol akses, perlindungan data, serta mitigasi terhadap ancaman siber. Mahasiswa juga diarahkan untuk membangun security mindset, yaitu kemampuan melihat sistem dari perspektif kemungkinan serangan sekaligus mekanisme pertahanannya.
Pembelajaran ini diperkuat melalui Academic Partnership Program antara UBHINUS dan International Council of E-Commerce Consultants (EC-Council) yang dituangkan dalam Memorandum of Agreement (MoA). Melalui kemitraan tersebut, mahasiswa memperoleh akses terhadap materi keamanan informasi yang terus diperbarui, termasuk materi berbasis Massive Open Online Course (MOOC), sebagai pengayaan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan industri.
Praktik Keamanan Siber melalui iLabs EC-Council
Pada Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027, mahasiswa juga mendapatkan akses gratis ke iLabs EC-Council melalui materi Ethical Hacking Essentials (EHE) dan Network Defense Essentials (NDE).
Melalui hands-on lab, mahasiswa dapat mempelajari bagaimana kerentanan diidentifikasi dan dimanfaatkan dalam suatu skenario serangan, sekaligus memahami bagaimana jaringan dan sistem dipertahankan melalui penerapan kontrol keamanan, pemantauan aktivitas, identifikasi indikasi serangan, dan penerapan countermeasure.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mengenal istilah seperti vulnerability, malware, atau firewall, tetapi memahami hubungan antara aset, ancaman, kerentanan, eksploitasi, dampak, dan kontrol keamanan. Pendekatan yang menggabungkan teori, analisis, dan praktik ini menjadi bagian penting dalam Mata Kuliah Keamanan Informasi.
Menurut Daniel Rudiaman Sijabat, S.T., M.Kom., dosen pengampu Mata Kuliah Keamanan Informasi, pembelajaran keamanan siber perlu memberi mahasiswa pemahaman yang utuh mengenai hubungan antara kerentanan, teknik serangan, dampak, serta mekanisme pertahanannya.
“Keamanan informasi tidak cukup dipahami hanya dari sisi konsep. Mahasiswa perlu mengetahui bagaimana sebuah kerentanan dapat ditemukan dan dieksploitasi melalui attack vector tertentu, bagaimana aktivitas serangan dapat dideteksi dan dianalisis, serta kontrol keamanan apa yang tepat untuk mengurangi risiko dan dampaknya. Melalui iLabs dari EC-Council, mahasiswa dapat mempelajari proses tersebut secara langsung dalam lingkungan yang terkontrol, mulai dari mengidentifikasi celah keamanan, mengamati pola serangan, menganalisis dampaknya terhadap sistem, hingga menerapkan countermeasure yang sesuai. Pendekatan ini penting agar mahasiswa tidak hanya memahami terminologi cybersecurity, tetapi juga mampu membangun security mindset dan memahami proses teknis yang diperlukan dalam mencegah, mendeteksi, dan merespons insiden keamanan di dunia nyata,” jelasnya.
Pengalaman Mahasiswa Informatika
Pengalaman pembelajaran tersebut juga dirasakan oleh mahasiswa Program Studi Informatika yang berkesempatan mengikuti course EC-Council melalui platform Learn on Demand, yaitu Network Defense Essentials (NDE) dan Ethical Hacking Essentials (EHE), serta memanfaatkan laboratorium virtual iLabs.
Bagi Gerrardo Arlen Thadeus Santosa, pembelajaran tersebut memperluas cara pandangnya terhadap jaringan komputer, tidak hanya dari sisi konektivitas, tetapi juga dari perspektif keamanannya.
“Sebelumnya aku lebih banyak melihat jaringan dari sisi bagaimana sistem bisa saling terhubung. Dari NDE dan EHE, aku mulai memahami sisi lainnya, yaitu bagaimana jaringan bisa diserang dan bagaimana cara melindunginya. Materi tentang ethical hacking juga membuatku lebih memahami pola pikir seorang security professional ketika mencari celah dalam suatu sistem.”
— Gerrardo Arlen Thadeus Santosa, Mahasiswa Informatika
Sementara itu, Dealova merasakan bahwa materi yang dipelajari membantunya membangun cara berpikir yang lebih kritis terhadap keamanan sebuah sistem.
“Yang menarik buatku adalah belajar melihat sebuah sistem bukan hanya dari sisi pengguna, tetapi juga dari sisi keamanannya. Aku jadi lebih terbiasa berpikir, ‘bagian mana yang mungkin memiliki kelemahan dan bagaimana kelemahan itu bisa dimanfaatkan?’ NDE dan EHE membuat pembelajaran cybersecurity terasa lebih konkret dan relevan dengan kondisi dunia IT saat ini.”
— Dealova, Mahasiswa Informatika
Pengalaman yang lebih berorientasi pada praktik dirasakan oleh Dico Havianto. Menurutnya, penggunaan iLabs membantu menghubungkan konsep keamanan siber yang dipelajari dengan skenario teknis yang lebih nyata.
“iLabs menjadi bagian yang paling menarik karena kami tidak hanya membaca atau mendengar penjelasan mengenai serangan siber. Kami bisa mencoba skenario di lingkungan laboratorium, mengenali celah keamanan, melihat bagaimana suatu serangan dilakukan, lalu mempelajari countermeasure yang dapat diterapkan. Pengalaman praktik seperti ini membuat materi keamanan jaringan menjadi jauh lebih mudah dipahami.”
— Dico Havianto, Mahasiswa Informatika
Melalui kombinasi Mata Kuliah Keamanan Informasi, materi pembelajaran yang terus diperbarui, pemanfaatan iLabs, serta kolaborasi akademik dengan EC-Council, UBHINUS menghadirkan proses pembelajaran keamanan siber yang lebih aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri. Mahasiswa tidak hanya dibekali pemahaman konseptual, tetapi juga kesempatan untuk mengembangkan security mindset, kemampuan analisis, serta pengalaman praktik dalam menghadapi berbagai skenario ancaman terhadap sistem dan jaringan.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya UBHINUS dalam mempersiapkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus memiliki kesadaran dan kompetensi di bidang keamanan siber.
Tertarik mendalami keamanan siber dan teknologi digital? Bersama UBHINUS, kembangkan kompetensi dan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan dunia teknologi.
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2027/2028 telah dibuka. Daftar melalui pmb.ubhinus.ac.id.

